Isunomic-Beras Rojolele merupakan padi lokal kebanggaan Klaten dengan cita rasa dan kualitas beras khas. Awalnya, varietas aslinya memiliki umur panen lebih dari lima bulan, postur tanaman tinggi, serta rentan terhadap hama dan penyakit.

Untuk memperbaiki karakteristik tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan penelitian sejak 2013 melalui teknologi mutasi radiasi sinar gamma. Dari pengembangan tersebut dihasilkan Rojolele Srinar, Srinuk, dan Sriten. 

Hasilnya, Rojolele Srinar dan Srinuk telah memperoleh pelindungan varietas tanaman (PVT) sebagai varietas turunan esensial dari varietas lokal Rojolele. Rojolele Srinuk memiliki produktivitas rata-rata sekitar 6,6 ton per hektare, dengan potensi mencapai 9 ton per hektare. 

“Selain produktivitas, varietas ini memiliki keunggulan cita rasa dan nilai jual. Tantangan pengembangannya masih mencakup ketersediaan benih bersertifikat, sementara produksi resmi benih Rojolele Srinar juga perlu didorong,” kata Lilik Nugraharja, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, dikutip Minggu (26/10/2026).

Antonius Suwanto, Guru Besar IPB University, menjelaskan bahwa pengembangan varietas unggul dapat dilakukan melalui persilangan, iradiasi, dan rekayasa genetika. Persilangan menggabungkan sifat unggul tanaman berbeda, sedangkan iradiasi memicu perubahan genetik yang kemudian diseleksi untuk memperoleh karakteristik yang diharapkan.