Isunomic-Indonesia dan negara-negara anggota G20 “satu suara” menolak tegas segala bentuk upaya yang menjadikan komoditas pangan sebagai alat penekanan atau instrumen politik dalam hubungan geopolitik global. Kesepakatan ini sejalan dengan komitmen Indonesia menolak penggunaan pangan sebagai senjata melalui tindakan perdagangan koersif (weaponization of food through coercive trade action).

Kesepakatan tersebut menegaskan bahwa akses terhadap pangan berkaitan langsung dengan hak dan kelangsungan hidup manusia. Alhasil, tidak dapat dibenarkan urusan pangan untuk dijadikan senjata diplomasi maupun tekanan ekonomi.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan sikap tegas tersebut usai menghadiri Pertemuan Menteri Perdagangan G20 (G20 Trade Ministers’ Meeting/TMM) yang berlangsung di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (30 September–1 Oktober 2026).

“Para Menteri Perdagangan G20 menolak upaya menjadikan pangan sebagai instrumen tekanan geopolitik. Pangan berhubungan langsung dengan kelangsungan hidup, dan penekanan melalui sektor ini tidak dapat dibenarkan,” ujar Mendag yang akrab disapa Busan tersebut dikutip Sabtu (3/1/2026).