Isunomic-Dunia masih bergolak. Saat ini meningkatnya risiko geopolitik disrupsi teknologi, fragmentasi keuangan, hingga kompleksitas rantai pasok global, masih menjadi ancaman bagi fiskal dan juga industri sektor keuangan.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menjelaskan, berbagai risiko global saat ini semakin saling terhubung. Ketegangan geopolitik, misalnya, dapat mengganggu pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga energi yang kemudian berdampak pada kenaikan harga barang lainnya, hingga nilai tukar.
Menurut Wamenkeu Juda, dalam menghadapi kondisi tersebut, kebijakan fiskal perlu tetap berfungsi sebagai shock absorber (peredam) sekaligus menjaga momentum pertumbuhan. APBN harus mampu melindungi masyarakat, mendukung aktivitas produktif, dan merespons risiko yang muncul dengan tetap menjaga disiplin, kredibilitas, dan keberlanjutan fiskal.
“Strategi fiskal harus tetap adaptif, prudent, dan berorientasi pada pertumbuhan; melindungi perekonomian saat ini sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal di masa depan,” ujar Wamenkeu Juda di acara Central Banking Service Festival (CB Fest) 2026, hari ini, Senin (28/9/2026).
Wamenkeu Juda menambahkan, ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Sistem keuangan perlu tetap stabil dan efisien, sekaligus semakin dalam dan inklusif agar mampu menyediakan sumber pembiayaan yang beragam serta mengarahkan modal kepada kegiatan produktif.
Peran perbankan juga perlu berkembang dari sekadar menyalurkan kredit menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, mendukung UMKM, sampai penciptaan lapangan kerja. Efisiensi tidak selalu berarti ketahanan, sehingga sistem keuangan tetap membutuhkan penyangga, saluran alternatif, dan pengaturan untuk memastikan keberlangsungan layanan serta menjaga kepercayaan terhadap sistem keuangan.
“Ketahanan adalah kemampuan kita untuk menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus bergerak maju tanpa kehilangan kredibilitas dan kepercayaan publik,” tandas Wamenkeu Juda.