Isunomic-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu penguatan daya saing industri mainan melalui peningkatan kualitas dan standardisasi produk, pengembangan kapasitas industri, serta perluasan akses pasar. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Kemenperin dalam memperkuat ekosistem industri mainan nasional agar mampu memanfaatkan pasar dalam negeri maupun global.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk terus mengawal perlindungan dan penguatan industri mainan. Industri mainan merupakan salah satu bagian dari sektor industri aneka yang memiliki karakteristik dan potensi yang sangat strategis.
Baca juga: Kaum Sat-set dan Tinggal Klak-klik Gunakan Aplikasi Keuangan di Hape, Hati-hati!
“Tantangan utama industri nasional saat ini memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global,” ujar Reni di Jakarta, Senin (5/10).
Menurut Reni, industri mainan memiliki potensi besar sebagai sektor padat karya sekaligus penghasil produk bernilai tambah. Penguatan pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing perlu dilakukan.
“Agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional,” tuturnya.
Reni menekankan, pengembangan industri mainan perlu melibatkan berbagai sektor. Kolaborasi penting untuk menciptakan ekosistem industri yang mendukung inovasi, meningkatkan daya saing, sekaligus memperluas jangkauan produk mainan dalam negeri.
“Pemerintah berperan menciptakan iklim usaha dan kebijakan yang mendukung, sementara pelaku industri menjadi motor utama dalam menghasilkan produk yang inovatif dan kompetitif,” uangkapnya.
Reni melanjutkan, industri mainan memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi, baik melalui pengembangan unit usaha maupun penyerapan tenaga kerja. Industri mainan juga tersebar di berbagai wilayah dan melibatkan pelaku usaha dengan karakteristik serta skala yang beragam.
“Secara nasional, industri mainan telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar,” tuturnya.
Berdasarkan data BPS tahun 2024 dan SIINas tahun 2025, tercatat sebanyak 256 unit usaha yang bergerak di sektor industri mainan dengan total 15.663 tenaga kerja. Selain itu, terdapat 10 sentra IKM mainan, yang terdiri dari empat sentra di Jawa Tengah, satu sentra di Jawa Timur, dan lima sentra di Jawa Barat.
Dari sisi perdagangan, dalam lima tahun terakhir, industri mainan mencatat surplus net ekspor. Pada tahun 2025, nilai ekspor meningkat sebesar 8,2% dibandingkan tahun 2024, mencapai sekitar USD664,6 juta (Rp11,2 triliun, kurs Rp17.000). Pada periode Januari hingga Juni 2026, ekspor juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025, yaitu dari USD297,7 juta (Rp5,06 triliun) menjadi USD351,8 juta (Rp5,98 triliun).
“Capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global,” tandas Reni.