Isunomic-Kemarau panjang akibat dampak El Nino memberikan tekanan berat bagi sektor hortikultura nasional, seperti cabai. Selain persoalan krisis air, cuaca panas yang ekstrem menjadi pemicu ledakan populasi hama dan penyakit yang mengancam produksi cabai.
Banyak petani gagal panen akibat tanaman cabainya sebagian besar mati. Tanaman yang mengalami stres kekeringan memiliki daya tahan yang relatif lemah, sehingga hasil panen pun dapat turun drastis lebih dari 50%.
Menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian tak menentu, penerapan teknologi pertanian berbasis pemuliaan tanaman (plant breeding) menjadi salah satu langkah mitigasi strategis. Penggunaan benih varietas unggul yang tahan penyakit terbukti efektif menekan risiko kerugian petani tanpa bergantung penuh pada penggunaan pestisida kimia berlebihan.
“Salah satu inovasi teknologi benih yang kini hadir sebagai solusi di musim kemarau adalah varietas Laba TAVI F1. Cabai keriting hibrida ini dirancang untuk memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit utama yang kerap menggagalkan panen di musim kering, yaitu layu bakteri, busuk batang atau akar, serta infeksi virus kompleks,” ujar Budi Hariyono, General Manager Commercial PT East West Seed Indonesia (Ewindo), dikutip Jumat (16/10/2026).
Menutut Budi, selain tahan penyakit, Laba TAVI F1 dirancang unyuk memiliki produktivitas tinggi. Cabai jenis ini mampu menghasilkan bobot rata-rata 8 gram per buah. Dengan potensi panen mencapai 18 - 23 ton per hektare, varietas ini menawarkan tingkat efisiensi usaha tani yang tinggi bagi para petani.