Isunomic-Angin sore sepoy-sepoy berembus menyapu lanskap bebatuan karst yang membentang di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan yang kerap disangka menyimpan keterbatasan, justru menyembunyikan rahasia kesuburan tersendiri. 

Di antara kontur tanah berbatu dan terik mentari yang menyengat, kini deretan daun lidah buaya berdiri tegar, memantulkan kilau hijau segar yang menyejukkan pandangan. Tanaman lidah buaya itu tak tumbuh secara liar, tapi merupakan jerih masyarakat yang ingin meraih pendapatan dari kondisi yang menyulitkan ketika kemarau panjang melanda.

Adalah PT Mount Vera Sejati yang berpijak sejak 2014 dan merajut asa untuk membuktikan bahwa kearifan lokal mampu diolah sedemikian rupa untuk hadir dengan ragam bentuk. Mulai dari isian sehat minuman dan mangkok camilan hingga menjadi bagian dari rantai produksi industri obat dan kecantikan yang jauh lebih kompleks. 

“Saya mencoba riset mandiri untuk mencari dan memilih tanaman yang tangguh dan sanggup berkembang optimal saat kemarau sekaligus memiliki nilai ekonomi. Lidah buaya jadi jawaban yang potensial untuk diekplorasi lebih lanjut,” ucap Alan Efendhi, sang founder, dikutip Senin (19/10/2026). 

Keindahan dari jenama Rasane Vera ini terletak pada jalinan kemitraan yang hangat bersama masyarakat lokal. 

Tidak berjalan sendirian, PT Mount Vera Sejati merangkul lebih dari 125 petani kecil di atas lahan membentang sekitar dua hektare. Dari tangan terampil para petani mitra inilah, pelepah-pelepah lidah buaya segar dipanen dengan penuh kepedulian, menghubungkan sumber daya alam perdesaan dengan rantai nilai bernilai tinggi. 

“Rasane Vera (nama produk PT Mount Vera Sejati) membentuk kelompok perempuan tani dan kami latih untuk mengolah dan menciptakan produk bernilai tambah lain, seperti dodol lidah buaya. Hasil karya tangan mereka kemudian kami serap untuk dijual di Aloe Land, sebuah kawasan agrowisata di bawah naungan PT yang sama. Ini menjadi penyemangat bagi warga untuk berkreasi menghasilkan produk unik dan inovatif hasil dari lidah buaya,” tutur Alan. 

Setiap jengkal proses pengolahan lidah buaya di sini dirawat dengan standar dedikasi yang tinggi. Dimulai dari tahap persiapan melalui pemilahan pelepah secara teliti untuk mendapatkan grade terbaik, dilanjutkan dengan proses higienis yang menjaga standar dan nutrisi tanaman. Seluruh operasionalnya turut menerapkan prinsip ekonomi sirkular, misalnya mengolah bagian pelepah lidah buaya yang tidak terpakai menjadi pupuk organik dan eco-enzyme guna mengembalikan kebaikan ke tanah tempatnya tumbuh. 

“Kami menyasar konsumen langsung (B2C) dan perusahaan (B2B). Untuk konsumen akhir, kami hadirkan aneka produk siap santap yang penuh serat dan menyehatkan, seperti Nata de Aloe Vera dan Aloe Vera Cube Drink. Di segmen B2B, kami tambahkan pilihan berupa Pure Aloe Vera Slice dan Liquid Gel yang menjadi bahan baku strategis bagi industri makanan, minuman, kosmetik, hingga farmasi,” jelas Alan. 

Melalui positioning yang strategis, penerapan ekonomi sirkular serta pemberdayaan masyarakat, fleksibilitas dalam suplai, dan penguasaan tentang seluk beluk lidah buaya membawa Rasane Vera pada sederet penghargaan, salah satunya terpilih menjadi Young Ambassador Agriculture 2023. Dengan semangat "Local Strength. Flexible B2B Potential", Rasane Vera kini memiliki target ekspor ke sejumlah negara tujuan, antara lain Persatuan Emirat Arab (PEA), Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. 

Kebaikan alam Gunungkidul ini siap melangkah lebih jauh, menembus pasar internasional dan menginspirasi dunia bahwa tempat yang terkesan gersang sekalipun, potensi ekonomi tetap dapat diciptakan.