Putin mengatakan Rusia ingin mengakhiri konflik dengan Ukraina dan siap melakukan perundingan. Menurutnya, Rusia ingin mengakhiri perang dan mewujudkan perdamaian yang langgeng serta menyeluruh di Ukraina dan Eropa.

Ketika konflik geopolitk mereda bukan tak mungkin harga batu bara akan kembali “normal”, sekitar USD85 per ton seperti yang diramalkan Fitch Rating.  Hilangnya tensi geopolitik global juga akan membuat kurs rupiah menguat, dan akan membuat ekspor batu bara tak lagi jadi primadona.

Harap dicatat juga, batu bara adalah energi kotor. Negara-negara konsumen batu bara terbesar dunia, macam China sudah lama memulai untuk mengurangi penggunaannya.  

China sudah terikat dengan Perjanjian Paris atau COP21 pada 2016. Saat ini China sudah mencatat sejarah karena porsi pembangkit listrik bertenaga batu bara turun menjadi 49,7% (di bawah 50% untuk pertama kalinya) berkat lonjakan kapasitas energi surya dan angin. 

Di sisi lain, India yang juga merupakan salah satu konsumen batu bara terbesar dunia terus berjuang mengatasi krisis Listrik yang dialaminya. Negeri Hindustan itu menargetkan krisis Listrik itu bisa teratasi pada 2032, atau enam tahun lagi. 

Ya sekarang pertanyaan-pertanyaan besarnya adalah, apakah Perang Rusia-Ukraina dan Perang Amerika Iran bisa berakhir cepat? Apakah China terus mengurangi ketergantungannya pada batu bara? Apakah India bisa mengatasi krisis listriknya? 

Semua pertanyaan itu bisa dengan mudah dijawab oleh stiker Bang Haji Bolot, “Nah itu dia”.