Sayangnya, Bank Mandiri tidak mengungkap jangka waktu (tenor) pembayaran kredit kepada Haji Isam. Urusan tenor, ke depan dinilai bisa menimbulkan risiko, apalagi jelas-jelas disebutkan bahwa sumber pembayaran utang hanya berasal dari keuntungan usaha batu bara. 

Dengan jaminan saham-saham emiten batu bara, dan juga sumber pembayaran hanya berasal dari bisnis batu bara, tampaknya Bank Mandiri meletakan โ€œnasibโ€ kredit ke Haji Isam pada harga batu bara. 

Memang saat ini harga batu bara menembus level USD150 per metrik ton, bahkan di tahun 2022 sempat mencapai USD400 per metrik ton. Salah satu pemicu kenaikan harga batu bara adalah faktor geopolitik global, perang Rusia-Ukraina dan perang di Selat Hormutz. 

Kondisi geopolitik global, bisa saja berubah total dalam jangka waktu lima tahun ke depan, atau lebih pendek dari itu. Di Amerika Serikat misalnya, bisa saja Donald Trump terjungkal dalam pemilu sela yang akan berlangsung pada November depan.

Kebijakan Trump yang memulai perang dengan Iran di Selat Hormutz mendapatkan gelombang penolakan yang terbilang besar.  Dalam beberapa survei terbaru, tingkat ketidakkepuasan publik AS terhadap Trump terlihat dominan.

Survei Reuters/Ipsos (16โ€“19 Oktober 2026) mencatat tingkat persetujuan (approval rating) terhadap kinerja Donald Trump berada di angka 34%, sedangkan 65% menyatakan tidak setuju. Kemudian survei RealClearPolitics (Oktober 2026) yang menunjukkan bahwa 60,4% warga Amerika Serikat tidak menyetujui kinerja Trump, berbanding 38,8% yang menyatakan puas.

Lalu, survei Gabungan (Washington Post, ABC, dan Ipsos) mencatat tingkat ketidakpuasan terhadap kinerja Trump mencapai 62%, yang merupakan angka tertinggi sepanjang masa kepresidenannya. Masih ada survei Pew Research /Universitas Quinnipiac (Juli-Oktober 2026) yang mencatat tingkat kepuasan publik berkisar antara 30% hingga 36%.

Perang Rusia dan Ukraina pun tak menutup kemungkinan bisa berakhir dalam waktu lima tahun, atau bisa lebih cepat dari itu. Usai menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan, awal September kemarin (2/9), Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan Moskow tetap terbuka untuk negosiasi.