Isunomic-Danantara Indonesia, lewat PT Danantara Investment Management (DIM), telah mengumumkan investasi strategis senilai USD250 juta (setara Rp4,3 triliun, kurs Rp17.500) di HighPeak Energy, Inc. (HighPeak) (NASDAQ: HPK). Danantara menyebut bahwa investasi ini memberikan DIM akses strategis terhadap portofolio aset yang didominasi minyak di Permian Basin, wilayah penghasil minyak terbesar di Amerika Serikat. 

Nantinya DIM bisa memperluas portofolio energi Indonesia di skala global, sejalan dengan misi untuk berinvestasi di sektor-sektor strategis bagi Indonesia. Kucuran duit dari DIM akan digunakan HighPeak untuk memperkuat struktur permodalan dan fleksibilitas keuangan perusahaan.  

Pandu Sjahrir, Chief Executive Officer Danantara Investment Management, menjelaskan bahwa investasi ini akan memberikan imbal hasil berkelanjutan dalam jangka panjang sekaligus mendukung kepentingan nasional Indonesia. Posisi strategis HighPeak di salah satu pasar hulu minyak dan gas bumi paling maju di dunia menjadikannya peluang investasi yang potensial.

Danantara menyebut investasi ini akan mendatangkan berbagai keuntungan. Akan ada imbal hasil, program pelatihan dan penugasan kerja (secondment) bagi tenaga kerja Indonesia, serta transfer teknologi soal teknik pengeboran horizontal dan rekahan hidrolik atau fracking (hydraulic fracturing). 

“Kami berharap kerja sama ini dapat memfasilitasi transfer pengetahuan yang mendukung pengembangan sektor energi Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan energi dan ekonomi yang telah lama terjalin antara Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Pandu dalam keterangannya dikutip Rabu (7/10/2026).

Lantas seperti apa sosok HighPeak Energy, Inc. (HighPeak). Perusahaan yang berbasis di Texas, Amerika Serikat, ini bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi di Permian Basin. 

Permian Basin merupakan wilayah cekungan yang membentang di wilayah Texas Barat dan New Mexico Tenggara. Luasnya lebih dari 190.000 km2 atau 19 juta hektare (ha). 

Permian Basin merupakan salah satu wilayah dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Diperkirakan cadangan minyak di sana hingga mencapai 70 miliar barrel.

Di wilayah yang didominasi oleh gurun itu bercokol raksasa-raksasa minyak dunia. Ada Exxon Mobile yang menguasai lahan lebih dari 556 ribu ha. Lalu ada Chevron yang menguasai lahan 890.340 ha. Masih ada Occidental Petroleum yang mengelola lahan sekitar 1,13 juta ha. Lalu ConocoPhillips yang menguasai lahan lebih dari 404 ribu ha. 

Lalu di mana posisi HighPeak? Perusahaan itu terjepit di antara  para raksasa tadi lantaran hanya memiliki penguasaan lahan sekitar 57 ribu ha. Dengan penguasaan lahan “sesempit” itu atau tak sampai 2% dari total penguasa para gergasi tadi, minyak yang dipompa perusahaan pun sedikit.

Mengutip Investing, rata-rata produksi minyak HighPeak hanya 45.500 barel setara minyak (BOE) per hari. Jumlah itu hanya sekitar 0,6% dari total minyak yang disedot dari Permian Basin yang mencapai 6,6 juta barel.

Kondisi keuangan HighPeak bisa dipantau di Seekingalpha. Total cash perusahaan sebesar USD146,3 juta, masih lebih kecil dari investasi Danantara. Total aset perusahaan pada kuartal III tahun ini sebesar USD3,17 miliar atau setara Rp55,3 triliun. Sedangkan kewajiban (utang) yang ditanggung perusahaan mencapai USD1,62 miliar atau Rp28,3 triliun.

Di kuartal II tahun ini, pendapatan HighPeak Energy, Inc tercatat USD272,4 juta dan laba bersih sebesar USD82,3 juta.  Laba bersih itu meningkat signifikan dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat USD26,2 juta. 

Mari kita bandingkan dengan Pertamina, maksudnya Pertamina Hulu Energi--perusahaan sejenis—yang berada di bawah naungan Danantara. Per Juni 2026, aset Pertamina Hulu Energi (PHE) mencapai USD32,8 miliar atau setara Rp574 triliun, 10 kali lebih besar dari HighPeak. 

Lantas berapa produksi PHE? Sebanyak 935 ribu barel per hari, atau 20 kali lebih banyak. Dari sisi pendapatan, PHE mengantongi pemasukan mencapai USD7,5 miliar lebih. Sedangkan laba usahanya menembus USD1,96 miliar.  

Menyoal transfer teknologi atau pengetahuan dari HighPeak yang menggunakan teknologi hydraulic fracturing (fracking) akan memunculkan pertanyaan sederhana: apakah karakteristik geologis di Permian Basin sama dengan wilayah Indonesia? 

Karakteristik batuan serpih (shale) di Indonesia umumnya mengandung lebih banyak tanah liat (clay-rich shale). Batuan jenis ini cenderung lebih "lunak" atau tidak mudah retak secara permanen dibandingkan batuan serpih di Permian Basin yang lebih keras dan rapuh (brittle).

Memang bukan berarti tak bisa diterapkan. Teknologi itu bisa diterapkan di Indonesia, tapi tentu dengan penyesuaian. Tak bisa plek ketiplek langsung dipakai (plug-and-play). Jadi perlu biaya lagi. Duh...