Meski demikian, angka itu muncul dari akumulasi surplus nonmigas sebesar USD28,54 miliar melawan defisit migas yang mencapai USD21,29 miliar. Data ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia pada energi fosil impor masih menjadi beban berat yang menggerogoti potensi devisa.
Kedua, penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia masih dikuasai oleh komoditas klasik. Lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15)—yang di dalamnya ada minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya--menyumbang surplus sebesar USD3,95 miliar hanya dalam satu bulan saja. Disusul oleh bahan bakar mineral (HS 27) dengan USD2,45 miliar, serta besi dan baja (HS 72) senilai USD1,78 miliar.
Secara akumulatif selama delapan bulan pertama 2026, HS 15 menyumbang surplus fantastis USD24,91 miliar. Diikuti bahan bakar mineral sebesar USD18,84 miliar, serta besi dan baja USD12,10 miliar.
Nah, dari sisi impor, total belanja Indonesia pada Agustus 2026 tercatat USD23,06 miliar, atau menyusut 11,63% dibandingkan Juli 2026. Penurunan ini dipicu oleh melambatnya aktivitas impor di seluruh kategori, mulai dari barang modal yang turun 16,04% hingga bahan baku yang turun 11,11% (MtM).
Kendati demikian, dalam skala kumulatif Januari–Agustus 2026, impor bahan baku naik 20,67% dan barang modal naik 18,82%. Tren kumulatif ini dinilai positif bagi industri dalam negeri.
“Seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan positif, mencerminkan tingginya aktivitas di sektor manufaktur dan geliat perekonomian domestik," terangnya.