Isunomic-Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Garuda Indonesia Tbk, Kamis kemarin (8/10), telah merobak jajaran petinggi perusahaan. Ada pergantian personel, baik di jajaran direksi maupun komisaris.

Di jajaran direksi, Thomas Sugiarto Oentoro didapuk menduduki kursi utama “pilot” Garuda. Mantan wakil direktur utama Garuda sejak Oktober 2025 ini menggantiakn Glenny H. Kairupan, yang digeser ke komisaris utama menggantikan Fadjar Prasetyo.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan ke BEI pada 10 Oktober 2026 terungkap, banyak “sosok baru” yang menduduki jajaran direksi dan komisaris baru Garuda. Tiga sosok baru di jajaran direksi, dan tiga di komisaris.

Di jajaran direksi, mereka adalah Alan McIntyre menjabat sebagai Direktur Komersial, Eric Ferdinand Sofyal (Direktur Operasi),dan Dina Sandri Fani yang menjabat sebagai direktur human capital & corporate service. Di jajaran komisaris termasuk Glenny, adalah Jaan Albrecht sebagai komisaris independen, dan Trey Urbahn sebagai komisaris independent.

Yang menarik, di masa-masa seperti badai restrukturisasi, turbulensi finansial, hingga gelombang pergantian rezim di tubuh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, ada satu nama yang selalu bercokok, nyaris tak tersentuh waktu. Dialah Chairal Tanjung.

Bisa dibilang, Chairal Tanjung adalah “komisaris abadi” di Garuda. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di jajaran dewan komisaris maskapai pelat merah ini pada akhir tahun 2014, ia tetap bertahan melewati berbagai era kepemimpinan.

Lantas, siapa sebenarnya sosok ini? Lahir di Jakarta, 16 Mei 1966, Chairal bukanlah figur kemarin sore di dunia birokrasi keuangan. Berbekal latar belakang pendidikan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) serta gelar sarjana hingga magister ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), ia memulai karier profesionalnya sebagai seorang auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Pada tahun 1992, Chairal bergabung dengan lingkaran bisnis sang kakak, Chairul Tanjung. Bermula sebagai manajer keuangan, kariernya melejit hingga didapuk menjadi Direktur CT Corp pada tahun 2000. 

Masuknya Chairal ke tubuh Garuda Indonesia bermula pada RUPSLB bulan Desember 2014. Penunjukan tersebut sejatinya bukan sekadar penugasan profesional biasa, melainkan representasi dari kepentingan strategis PT Trans Airways—anak usaha CT Corp—yang menanamkan modal dan menjadi salah satu pemegang saham signifikan di maskapai nasional tersebut.

Awal mula masuknya Chairul Tanjung atau CT Corp sebagai pemegang saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berawal pada tahun 2012, atau sekitar satu tahun setelah Garuda resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (IPO) pada Februari 2011. Melalui PT Trans Airways, Chairul Tanjung memborong kepemilikan saham Garuda.

Pada saat itu, Trans Airways memborong sekitar 10,88% saham Garuda (mencakup miliaran lembar saham) dari sejumlah sekuritas yang bertindak sebagai penjamin emisi (underwriter) saat Garuda pertama kali IPO. Transaksi besar ini dilaporkan bernilai sekitar Rp1,53 triliun dengan harga pembelian di kisaran Rp620 per saham.

Saat ini kepemilikan saham Trans Airways di Garuda sebanyak 7.316.798.262 lembar saham atau 1,80%. Selebihnya, paling banyak dikempit Danantara sekitar 95%.