Isunomic-Indeks harga saham gabungan pada perdagangan kemarin, Kamis (22/10), ditutup menguat sebesar 1,12% atau 59 poin ke posisi 5.387. Penguatan kemarin memperpanjang torehan selama dua hari berturut-turut.

Ada sejumlah faktor yang membuat IHSG kemarin menguat. Pertama, aksi borong saham sendiri (buyback) oleh sejumlah emiten. 

Salah satunya adalah Bank Mandiri yang memborong saham sendiri dengan anggaran hingga Rp1 triliun. Aksi itu memicu sentimen positif ke sejumlah saham bank Himbara lainnya, seperti BBNI dan BMRI.

Kenaikan IHSG juga dipengaruhi oleh aksi perburuan saham murah (bargain hunting) oleh para investor domestik. Mereka memanfaatkan valuasi saham-saham blue chip yang sudah terdiskon lebar akibat koreksi tajam di pekan sebelumnya.

Tingginya nilai transaksi domestik ini berhasil menyerap tekanan pasar, sebab di hari yang sama investor asing justru melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp1,47 triliun di pasar reguler. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi sasaran transaksi terbesar para investor yang memanfaatkan momentum koreksi harga tersebut.

Untuk hari ini, Jumat (23/10) atau hari penutupan akhir pekan, sejumlah analis memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan terbatas dalam rentang support 5.310 dan resistance 5.430. Ada juga yang memprediksi support hari ini di 5.185 dan 4.915, sedangkan resistance 5.404 dan 5.563.

Ada beberapa sentimen yang mendorong penguatan itu. Pertama, masih berlanjutnya sentimen positif atas keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75%. Keputusan itu memberikan kepastian arah kebijakan moneter dalam negeri di tengah ketidakpastian pasar global.

Kemudian, musim rilis kinerja keuangan kuartal III. Investor sedang mencermati laporan keuangan kuartal ketiga tahun 2026 dari emiten-emiten besar. Rilis laba bersih yang solid, seperti dari sektor konsumen dan perbankan, menjadi bahan bakar pendorong optimisme pasar domestik.

Meski demikian, isu reklasifikasi Indeks MSCI masih terus membayangi. Pasar masih mengantisipasi perkembangan terkait usulan perubahan klasifikasi bursa saham Indonesia oleh MSCI yang sempat menciptakan “Jumat Hitam”, pada Jumat pekan lalu (16/10). Hari itu IHSG hancur hingga 11,7%.