Mengutip Amro-Asia.Org, Singapura sejatinya tidak memiliki utang bersih (net debt) dan memiliki posisi keuangan yang sangat sehat. Tingginya angka rasio utang tersebut disebabkan oleh beberapa alasan struktural dan kebijakan fiskal yang unik.
Pertama, Singapura tidak berhutang untuk menutupi defisit anggaran. Di banyak negara, terutama di Indonesia, utang menumpuk karena pemerintah terus-menerus mengalami defisit anggaran.
Di Singapura, konstitusinya melarang pemerintah menggunakan pinjaman untuk membiayai pengeluaran operasional sehari-hari (recurrent spending). Pemerintah Singapura secara historis selalu mencatatkan surplus anggaran atau setidaknya anggaran yang seimbang.
Kedua, utang yang diterbitkan ditujukan untuk investasi dan cadangan dana. Penerbitan surat utang (seperti Singapore Government Securities atau SGS) secara hukum tidak boleh digunakan untuk belanja rutin, melainkan harus diinvestasikan.
Singapura menerbitkan obligasi itu untuk disalurkan ke lembaga pengelola cadangan devisa dan kekayaan negara (seperti GIC Private Limited) guna diinvestasikan ke berbagai instrumen global yang menghasilkan imbal hasil (return). Hasil investasi biasanya lebih tinggi daripada biaya bunga utang yang harus dibayar pemerintah.