Isunomic-Meski utang Indonesia banyak, namun secara rasio terhadap PDB terlihat masih terbilang aman. Rasio utang Indonesia masih di bawah 60%, sesuai dengan Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Jumlah rasio utang itulah yang membuat Indonesia menempati posisi ketujuh di ASEAN. Posisi rasio utang Indonesia masih lebih baik dibanding beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, Filipina atau Laos.
Lalu siapa juaranya? Atau negara yang rasio utangnya terhadap PDB paling gede? Singapura. Ya jiran yang sedang “berseteru” dengan Indonesia itu memiliki rasio utang yang paling tinggi di kawasan ASEAN.
Mengutip World of Statistic--yang sumber datanya berasal dari IMF, Oktober 2026--angka rasio utang Singapura terhadap PDB-nya menembus 166,4%. Angka itu juga mendudukan Singapura di posisi ketiga dunia di bawah Sudan (334,4%) dan Jepang (199,4%).
Secara nominal utang pemerintah Singapura sekitar USD1,02 triliun--dengan kurs Rp18.000-- setara Rp18,36 kuadriliun. Sementara PDB nominal Singapura sebesar USD603,87 miliar.
Sabar, jangan keburu hepi dulu! Kendati rasio utang Singapura sangat tinggi, fakta di balik itu jelas berbeda makna dan tujuannya jika dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya Indonesia.
Mengutip Amro-Asia.Org, Singapura sejatinya tidak memiliki utang bersih (net debt) dan memiliki posisi keuangan yang sangat sehat. Tingginya angka rasio utang tersebut disebabkan oleh beberapa alasan struktural dan kebijakan fiskal yang unik.
Pertama, Singapura tidak berhutang untuk menutupi defisit anggaran. Di banyak negara, terutama di Indonesia, utang menumpuk karena pemerintah terus-menerus mengalami defisit anggaran.
Di Singapura, konstitusinya melarang pemerintah menggunakan pinjaman untuk membiayai pengeluaran operasional sehari-hari (recurrent spending). Pemerintah Singapura secara historis selalu mencatatkan surplus anggaran atau setidaknya anggaran yang seimbang.
Kedua, utang yang diterbitkan ditujukan untuk investasi dan cadangan dana. Penerbitan surat utang (seperti Singapore Government Securities atau SGS) secara hukum tidak boleh digunakan untuk belanja rutin, melainkan harus diinvestasikan.
Singapura menerbitkan obligasi itu untuk disalurkan ke lembaga pengelola cadangan devisa dan kekayaan negara (seperti GIC Private Limited) guna diinvestasikan ke berbagai instrumen global yang menghasilkan imbal hasil (return). Hasil investasi biasanya lebih tinggi daripada biaya bunga utang yang harus dibayar pemerintah.
Ketiga, terkait dengan dana pensiun (CPF). Sebagian besar instrumen utang pemerintah diterbitkan untuk mendukung program jaminan sosial wajib warga Singapura, yaitu Central Provident Fund (CPF). Dana tabungan pensiun masyarakat ini dipinjamkan kepada pemerintah melalui penerbitan obligasi khusus (seperti Special Singapore Government Securities / SSGS) agar pemerintah dapat memberikan imbal hasil yang dijamin aman dan pasti kepada para pensiun. Dengan kata lain, Singapura berutang pada warganya sendiri, bukan kepada pihak asing atau bank internasional.
Keempat, pengembangan pasar keuangan domestik. Pemerintah secara sengaja menerbitkan obligasi dan surat utang negara secara teratur untuk membangun pasar keuangan yang dalam dan likuid. Instrumen seperti Singapore Government Securities (SGS), Treasury Bills (T-Bills), dan Singapore Savings Bonds (SSB) dibutuhkan oleh perbankan, korporasi, serta investor sebagai acuan suku bunga (benchmark yield curve) yang aman guna mendukung posisi Singapura sebagai pusat keuangan internasional.
Terakhir, pendanaan infrastruktur jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mulai menerbitkan obligasi di bawah kerangka infrastruktur nasional untuk membiayai proyek-proyek besar yang kepentingannya lintas generasi (misalnya jaringan transportasi massal/MRT yang masif). Proyek-proyek ini nantinya menghasilkan aset fisik yang nilainya setara atau bahkan melebihi utang yang ditarik.
Jadi, angka rasio utang yang tinggi di Singapura adalah utang kotor (gross debt) di atas kertas. Jika dihitung secara utang bersih (net debt), posisi keuangan Singapura bernilai positif karena total aset finansial dan cadangan devisa negara jauh melampaui jumlah kewajibannya.
Inilah sebabnya mengapa Singapura tetap mempertahankan peringkat kredit tertinggi di dunia (AAA) dari berbagai lembaga pemeringkat internasional. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Nah kena deh.