Isunomic-Seiring berakhirnya bulan Oktober, berakhir pula Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang digencarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2016. Selama BIK 2026, OJK telah menyelenggarakan 6.446 kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang menjangkau lebih dari 798 ribu peserta di seluruh Indonesia.
Selain me​mperluas jangkauan edukasi keuangan, pelaksanaan BIK 2026 juga mencatat berbagai capaian perluasan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan. Di antaranya pembukaan 7,21 juta rekening perbankan, 2,07 juta rekening pasar modal, 5,38 juta polis asuransi, 2,07 juta rekening perusahaan pembiayaan, 4,63 juta rekening pegadaian, serta 5,87 juta akun fintech.
“Capaian itu mencerminkan komitmen OJK untuk memperluas akses terhadap layanan keuangan formal sekaligus meningkatkan pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” kata Dicky Kartikoyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, saat acara Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) dan Financial Expo (FinExpo) 2026 di Trans Studio Mall Bandung, Jawa Barat, Kamis kemarin (29/10/2026).
Sesuai namanya, BIK tentu saja ditujukan untuk terus meningkatkan angka inklusi keuangan di Indonesia. Tentu saja, sembari berupaya meningkatkan target literasi keuangan yang ditetapkan pemerintah.
Dalam RPJMN pemerintah menargetkan angka inklusi keuangan sebesar 91% pada tahun 2025 dan 93% pada tahun 2029. Kemudian sebesar 98% pada tahun 2045. Sedangkan target literasi keuangan 2029 adalah 69,35%.
Berkat kerja keras OJK dan para pemangku kepentingan, target-target itu sudah terlewati, bahkan sebelum waktu yang ditetapkan. Pencapaian target itu bisa dilihat dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 yang diumumkan OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan, dan Badan Pusat Statistik pada 11 Agustus 2026.
Hasil SNLIK tahun 2026 menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan mencapai 93,61% dan literasi keuangan 69,57%. Indeksi inklusi dan litreasi keuangan di tahun ini meningkatkan dibanding tahun sebelumnya yang berada di 92,74% dan 66,64%.
“Keduanya sudah melampaui target RPJMN 2025–2029 dengan akses yang hampir universal,” kata Telisa Falianty, ekonom UI, kepada Isunomic, Sabtu (31/10/2026).
Untuk target 2045 dengan rentang waktu yang masih panjang atau 19 tahun lagi, target 98% bukan mustahil tercapai. Apalagi dengan kegiatan Bulan Inklusi Keuangan yang digelar setiap tahun.
“Sesuai amanat RPJPN 2025-2045, insya Allah harapannya di tahun 2045 inklusi keuangan Indonesia adalah 98%,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari Dewi pada gelaran puncak Hari Indonesia Menabung 2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, akhir Agustus lalu (28/8).
Hasil SNLIK 2026 menunjukkan peta-peta inklusi keuangan yang menarik, terutama dari sisi kelompok umur. SNLIK membagi menjadi lima kelompok umur untuk melihat tingkat inklusi keuangan masyarakat secara menyeluruh, yaitu kelompok umur 15-17 tahun, 18-25 tahun, 26-35 tahun, 36-50 tahun, dan 51-79 tahun.
Kelompok umur 26-35 tahun yang merupakan usia produktif menjadi kelompok yang memiliki indeks inklusi keuangan paling tinggi, sebesar 96,27%. Sementara, penduduk usia 15-17 tahun menjadi kelompok umur yang indeks inklusi keuangannya paling rendah, yaitu 89,13%.
Kenapa kelompok usia 15-17 tahun menjadi yang terendah indeks inklusi keuangannya? Apakah OJK mengabaikan mereka? Tentu saja tidak. Ada banyak faktor yang membuat indeks inklusi keuangan kalangan remaja itu rendah, yang terutama adalah usia itu sendiri.
Indeks inklusi keuangan dalam SNLIK 2026 menggunakan parameter penggunaan (usage) terhadap produk dan layanan jasa keuangan. Memang saat ini tersedia banyak produk dan layanan jasa keuangan, mulai dari perbankan, pembiayaan (leasing), pegadaian, hingga pinjaman daring (pindar).