Masalah kalangan remaja usia 15-17 tak bisa mengakses semua produk dan layanan jasa keuangan itu, sebab mereka pada umumnya terbentur persyaratan. Untuk bisa mengakses produk dan jasa keuangan, nasabah, debitur, atau borrower harus memiliki kartu tanda penduduk (KTP).
Fintech atau pinjaman daring (pindar) yang sangat bisa diakses dari mana dan kapan saja--dan merupakan motor pendongkrak inklusi keuangan--tak bisa sembarang memberikan pinjaman kepada kalangan remaja. SEOJK Nomor 19/SEOJK.06/2025 menetapkan mereka yang bisa diberikan layanan pindar minimal harus berusia 18 tahun atau sudah menikah.
Aturan OJK itu menjadi pegangan para penyelenggara fintech dalam menyalurkan pinjaman. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), misalnya mensyaratkan usia peminjam adalah 21 tahun.
Padahal kemampuan kalangan remaja mengakses produk atau layanan keuangan, terutama pindar, sangatlah besar. Laporan Digital 2025 Global Overview mengungkap, sebanyak 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online, melampaui Filipina dan Afrika Selatan yang tercatat 98,5%.
OJK memang telah menghadirkan Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel) yang diluncurkan OJK pada Juni 2015. Hingga kuartal I-2026, OJK mencatat ada 59,03 juta rekening Tabungan dengan simpanan sebesar Rp29,13 triliun.
Secara tren, jumlah rekening pelajar terus menunjukkan peningkatan. Tumbuh sebesar 1,25% secara tahunan (yoy).
"Capaian ini menunjukkan perkembangan yang positif dalam mendorong inklusi keuangan di kalangan pelajar," kata Dicky Kartikoyono, akhir Mei lalu (28/5).
Ndilalahnya, tak semua remaja usia 15-17 tahun menjadi pelajar SMP dan SMA atau bersekolah. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Tahun 2025, terdapat 2.922.607 anak usia 7–18 tahun yang tidak bersekolah, dengan kelompok usia terbesar berada pada rentang 16–18 tahun (sebanyak 2.009.918 anak).
Mereka yang bersekolah pun belum tentu “mampu” membuka rekening bank untuk Tabungan Simpel, mengingat kondisi ekonomi keluarga. BPS mencatat pada Maret 2026 jumlah penduduk miskin ada 22,93 juta. Buat mereka yang termasuk miskin, boro-boro menabung, buat makan saja masih kesulitan.
Indeks inklusi keuangan remaja atau mereka yang berusia 15-17 tahun masih lebih tinggi jika dibandingkan indeks literasi keuangannya. Tingkat pemahaman remaja terhadap produk-produk keuangan formal hanya sebesar 56,04%, terendah dari sisi kelompok umur.
Tingginya indeks inklusi keuangan remaja dibanding literasinya memang seperti sebuah “keniscayaan”. Mengingat faktor-faktor angka putus sekolah dan kondisi keuangan keluarga.
“Berdasarkan kelompok umur, indeks literasi dan inklusi keuangan memiliki pola distribusi normal,” tulis OJK dalam pengumuman SNLIK 2026.
Di satu sisi, secara umum lebih tingginya indeks inklusi keuangan dibanding literasi, menjadi langkah awal untuk meningkatkan pemahaman mereka. Jadi ada pandangan yang mendahulukan inklusi terlebih dahulu.