“Sebagian pandangan menilai inklusi perlu didahulukan karena masyarakat dapat belajar melalui penggunaan langsung,” kata Telisa.

Telisa mencontohkan, pengalaman M-Pesa di Kenya mendukung pandangan ini. Jadi layanan uang seluler membantu masyarakat pedesaan menabung dan berwirausaha.

“Namun untuk kondisi Indonesia saat ini, prioritas perlu bergeser ke literasi. Dengan akses yang hampir universal, langkah berikutnya adalah meningkatkan kualitas penggunaan melalui penguatan literasi,” jelas Telisa.

OJK menyadari keterbatasan kelompok usia 15-17 tahun dalam mengakses produk atau layanan keuangan legal. Meski demikian, mereka juga terus berupaya mendongkrak angka inklusi dan literasi keuangan itu.

Salah satunya adalah menyasar sekolah-sekolah dan pesantren untuk meningkatkan literasi keuangan, dan juga inklusi keuangan. OJK memiliki program yang nama KEJAR (Satu Rekening, Satu Pelajar). 

Masih banyak lagi program OJK yang menyasar pelajar, misalnya DigiClass Sekolah Rakyat 2026. Atau, EPIKS (Ekosistem Pondok Pesantren Inklusif Keuangan Syariah) yang menyasar pelajar di lingkungan pesantren.

“OJK berperan aktif dalam meningkatkan pemahaman investasi remaja atau kaum muda melalui berbagai macam edukasi dan literasi secara berkelompok ataupun massal. OJK juga bersinergi dengan berbagai institusi dalam mengadakan berbagai macam event yang bertujuan untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan,” kata Andi Nugroho, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, kepada Isunomic, Jumat (30/10/2026).

Indeks inklusi keuangan dan terutama literasi keuangan kalangan remaja atau usia 15-17 tahun memang harus terus dikejar.  Bagaimana pun, mereka merupakan penerus generasi mendatang.

Peningkatan indeks inklusi dan literasi kalangan remaja sangat penting. Salah satunya dalam kerangka perencanaan keuangan yang saat ini trennya menjadi perhatian.

“Sepengamatan saya kesadaran kaum muda dalam merencanakan keuangannya semakin lama semakin baik dan menunjukkan tren naik yang menggembirakan. Ini tecermin dari semakin banyaknya pembahasan tentang perencanaan keuangan di sosial media,” jelas Andi. 

Kalangan remaja saat ini, ke depannya adalah generasi produktif yang bisa mengakses berbagai produk dan layanan jasa keuangan. Merekalah yang akan menjadi penggerak utama industri keuangan.  

Luasnya akses dan tingginya pemahaman mereka terhadap produk-produk dan layanan jasa keuangan pada akhirnya akan mengembangkan industri jasa keuangan itu sendiri. Industri jasa keuangan punya peran dominan dalam perekonomian.

“Bank Dunia mencatat bahwa akses keuangan yang lebih luas dapat meningkatkan tabungan nasional, memperluas basis investasi, dan mendorong pertumbuhan jangka panjang,” tandas Telisa Falianty.